Jumat, 29 November 2019

Calistung untuk anak? Oke ngga sih?

      Well bicara soal pendidikan anak usia dini, tentunya terdapat isu-isu yang sangat familiar di kalangan para pendidik dan lembanga pendidikan. Kaitannya akan isu-isu pendidikan tentunya di jenjang pendidikan anak usia dini banyak yang pernah terdengar akan isu mengenai "calistung". 
              
       Ada beberapa komentar dan asumsi yang mengatakan bahwa "calistung" untuk anak usia dini tidak diperbolehkan. Namun, pada beberapa kasus seperti sekarang ini sekolah tingkat dasar mewajibkan anak-anak yang masuk sudah harus bisa "calistung" itu sendiri. Pernyataan tersebut menuai pro dan kontra. 
          Nah untuk lebih lengkapnya, yuk mari kita simak penjelasan berikut Ayah Bunda...


PEMBELAJARAN CALISTUNG UNTUK PAUD


Konsep mebaca, menulis dan berhitung

1. Membaca 
            Membaca dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) yaitu melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Dalam pendidikan anak usia dini membaca merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh guru dan murid
a. Tahap fantasi : Pada tahapan ini anak belajar membaca menggunakan buku.
b. Tahap pembentukan  konsep diri : anak mulai melibatkan dirinya dalam membaca, seperti berpura-pura membaca.
c. Tahap membaca gambar : Anak dapat menemukan kata yang sudah dikenal dengan melihat gambar.
d. Tahap pengenalan bacaan : Anak menggunakan tiga system isyarat (Graphoponic, Semantik, Syntetic).
e. Tahap membaca lancar : Anak dapat membaca berbagai macam tulisan dalam buku dengan baik dan benar.

2. Menulis
           Menulis dalam KBBI adalah membuat huruf (angka dan lainnya) dengan menggunakan pena. Berhitung bagi anak usia dini memiliki tahapan, yaitu:
Tahap Mencoret atau Membuat Goresan.
Tahap Pengulangan Secara Linier
Tahap Menulis Secara Random
Tahap Menulis Tulisan Nama

3. Berhitung
      Menghitung adalah membilang (menjumlahkan, mengurangi, membagi, memperbanyak, dan lainnya). Pada anak usia dini, menghitung memerlukan hal konkret agar memudahkan anak dalam memahmi konsep berhitung. Konsep berhitung dapat dicapai anak melalui berbagai tahapan:
a. Tahap konsep/pengertian : Pada tahap ini pengenalan berhitung dengan menggunakan benda-benda konkret disekitar anak.
b. Tahap transisi/peralihan : Peralihan daro konkret ke abstrak, dari konsep ke lambing bilangan.
c. Tahap lambang bilangan : Tahap ini anak sudah mulai diberi kesempatan menulis lambing bilangan tanpa paksaan
ISU-ISU CALISTUNG PADA ANAK


Beberapa di bawah ini isu-isu terkait "calistung" pada jenjang anak usia dini :
ü Dikarenakan mental anak yang belum siap menerima materipembelajaran yang berat (calistung), dunia anak masih dalam tahapan bermain.
ü Dalam dunia neurosains memperlihatkan bahwa serabut kognitif pada anak belum tumbuh dengan sempurna, sehingga apabila dipaksakan untuk belajar berhitung dikawatirkan mengganggu kognitif anak ketika dewasa.
ü Adanya tuntutan dari sekolah dasar mengenai penerimaan murid baru dengan syarat melalui tes
ü Calistung dapat menyebabkan mental Hectic, calistung dapat menyebabkan mental hectic manakala kegiatan tersebut tidak bisa mengakomodir “cara belajar” anak. Proses pembelajaran yang kakau dan formal adalah faktor utama anak mengalamai “kejenuhan”. Proses yang terus-menerus diulang pada akhirnya membentuk struktur kognitif mereka menjadi kacau.yang semestinya berkembang baik malah terhalangi. Sementara yang bukan potensinya malah dipaksakan.

Lalu bagaimana menurut pendapat Ahli ??

Singowijoyo mengatakan  mengenai pandangannya terhadap membaca, menulis dan berhitung bagi anak, yaitu:
  Memaksa anak usia dibawah lima tahun menguasai calistung dapat menyebabkan mental hectic (pemberontak).
  Penyakit mental hectic tersebut dapat menganggu anak ketika kelas 2 sampai dengan 3 sekolah dasar.

ANALISIS

Permendiknas tentang standar  PAUD menyatakan, ada empat tingkat pencapaian terkait dengan kemampuan calistung (usia 4-6 tahun):
    Pura-pura membaca cerita bergambar dalam buku dengan kata-kata sendiri.
    Berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata serta mengenal symbol-seimbol untuk persiapan membaca, menulis, dan berhitung.
    Membaca nama sendiri.
    Menuliskan nama sendiri.

           BAGAIMANA SOLUSI YANG TEPAT TERKAIT ISU CALISTUNG ??

1.    Metode Sintesa (Montessori)
Didasarkan pada teori Asosiasi yang dikembangkan dari ilmu jiwa  mengatakan bahwa suatu unsur (missal unsur huruf) mempunyai makna jika bertalian atau berhubungn (berasosiasi) dengan unsur lain sehingga membentuk arti. Dalam praktik mengajar calistung dapat menggunakan gambar. Misalnya: huruf A disertai dengan gambar Ayam. Sedangkan pendekatan dalam menulis menurut Montessori dapat dilakukan dengan:
  Mengisi lukisan dengan garis (mengarsir).
  Menebalkan tulisan.
  Meraba tulisan yang bertekstur (kasar).

2.    Metode Global (Declory)
Didasarkan pada teori Gestalt yang dikembangkan dari ilmu jiwa gestalt (keseluruhan). Anak pertama kali memakai sesuatu secara keseluruhan (global). Keseluruhan disini memiliki makna yang “lebih”. Misalnya: huruf A hanya akan bermakna apabila A ini fungsional dalam kalimat, contohnya “Ayam Berlari”.

3.    Metode Whole Linguistic
Permainan membaca tidak dilakukan dengan menggunakan pola kata atau kalimat yang berstruktur melainkan dengan menggunakan kemampuan linguistic (bahasa). Misalnya: setelah anak selesai menggambar atau mewarnai seperti rumah atau tanaman, guru meminta anak untuk mewarnai nama yang sudah dituliskan oleh guru. 


So, Ayah Bunda sekarang sudah lebih jelas kan bagaimana mengajarkan anak-anak kita "calistung" dengan metode yang mudah menyenangkan tanpa khawatir membebani anak-anak.
Yuk, mari bergabung dengan kami keluarga 
TK Islam Al Azhaar Tulungagung "Membina Generasi Robani".
Belajar terasa asyik dan menyenangkan?? TK Islam Al Azhaar tempatnya