Sabtu, 03 Juni 2017

PAPER TIPS-TIPS MENANGANI ANAK ADD/ ADHD



PAPER
TIPS-TIPS  MENANGANI ANAK ADD/ ADHD
Paper ini disusun untuk memenuhi tugas UTS Mata Kuliah Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
Dosen Pembimbing : Erni Munastiwi, M.Pd.

                                                                                                                                                            
 






Disusun oleh :
Dian Fairuz Zahiyah
NIM. 14430033

SEMESTER V
KELAS B

PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI
FAKULTAS ILMU TARBIYAH dan KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015/2016
KATA PENGANTAR

            Pertama, saya mengucapkan puji dan syukur kepada Allah swt. yang telah memberikan rahmat serta hidayahNya sehingga saya dapat memenuhi tugas UTS mata kuliah Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus serta menyelesaikan Paper yang berjudul Tips-Tips Menangani Anak ADD/ ADHD dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Sholawat serta salam akan senantiasa saya haturkan kepada Nabi Muhammad saw. semoga kita semua mendapatkan syafaatnya di hari kiamat kelak.
            Kedua, saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus yaitu Ibu Erni Munastiwi, karena telah membimbing dan mengarahkan saya terkait dengan pembuatan paper ini. Terimakasih juga saya ucapkan kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam terselesaikannya pembuatan paper ini, tanpa dukungan dan arahan dari semuanya, paper ini mungkin tidak akan berhasil dan selesai dengan baik. Maka dari itu saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang membantu dalam proses penyelesaian paper ini.
            Akhir kata, semoga paper ini dapat memberikan manfaat dan menjadi amal shaleh bagi penyusun dan pembacanya. saya menyadari, bahwa pembuatan paper ini tidak lepas dari kekurangan, maka dari itu saya mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini dan tugas selanjutnya.
                                                                                    Yogyakarta, 26 Oktoberber 2016

                                                                                                                        Penyusun



DAFTAR ISI
                                                                                                                        Halaman
Kata Pengantar …………………………………………………...                        2
Daftar Isi …………………………………………………….........                        3

Bab I Pendahuluan ……………………………………………….                         4
A.     Latar Belakang ……………………………………............                          4

Bab II Pembahasan ……………………………………………….                       5
A.  Tips Pola Asuh Untuk Anak dengan ADD/ ADHD ……….                            5
B.   Tips Sekolah untuk Anak dengan ADD/ ADHD …………..                           5
C.  Kerjasama Orang Tua dengan Guru di Sekolah ..………….                            7
D.  Tips untuk Mengelola Kelas bagi Guru ………..…………..                            7
E.   Obat untuk ADD/ ADHD…………….…………………….                          9

Bab III Penutup …………………………………………………..                          11
Kesimpulan ………………………………………………...                          11

Daftar Pustaka …………………………………………………….                         12



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Banyak gangguan baik yang bersifat fisik maupun psikis yang “menyeramkan”, yang dapat dialami oleh anak dan tentunya gangguan-gangguan tersebut dapat menjadikan para orang tua cemas dan dapat mengalami frustasi bahkan stress jika tidak bisa menagnganinya. Salah satu gangguan psikis yang sering menjadi momok adalah ADHD.
            Gangguan ADHD saat ini sering menjadi buah bibir, diperbincangkan, baik penyebab maupun pengaruhnya terhadap terhadap anak dan juga penanganannya oleh berbagai kalangan, mulai dari orang tua hingga para professional, termasuk di dalamnya adalah pendidik PAUD.
            Bagi pendidik PAUD, pengetahuan tentang ADHD serta penanganannya mutlak harus dimiliki. Jangan sampai pendidik PAUD kewalahan dalam menjawab dan menjelaskan berbagai pertanyaan maupun situasi yang sebenarnya terjadi terhadap anak usia dini dengan ADHD dari orang tua mereka.[1]
            Peran pendidik PAUD sebagai professional sangat diperlukan untuk membantu orang tua, khususnya mereka yang masih awam penanganan anak dengan gangguan ADHD. Oleh karena itu dalam paper ini akan dibahas mengenai



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Tips Pola Asuh untuk Anak dengan ADD/ ADHD
            Jika anak hiperaktif, lalai, atau inpulsif, mungkin diperlukan:
a.       Banyak waktu dan tenaga untuk mendengarkan, menyelesaikan tugas, atau duduk diam.
b.      Pemantauan secara terus menerus agar anak tidak frustasi dan melelahkan.
c.       Anak-anak dengan ADD/ ADHD membutuhkan srtuktur, konsistensi, komunikasi yang jelas, dan penghargaan dan konsekuensi perilaku mereka.
d.      Mereka juga membutuhkan banyak cinta, dukungan, dan dorongan.

B.     Tips Sekolah untuk Anak dengan ADD/ ADHD
            Kita tidak akan menyerap informasi atau mendapatkan hasil jika hanya dilakukan sekitar kelas tetapi seharusnya membaca atau mendengarkan. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan, antara lain:
a.       Pikirkan lingkungan sekolah yang memfasilitasi anak-anak melakukan: duduk diam, mendengarkan dengan tenang.
b.      Ada banyak hal kedua orang tua dan guru dapat melakukan untuk memabantu anak ADD/ ADHD berkembang dalam kelas. Dimulai dengan mngevaluasi kelemahan setiap individu anak dan kekuatan, kemudian membantu anak focus, tetap pada tugas, dan belajar untuk kemapuannya secara optimal.
c.       Sekolah menciptakan berbagai tantangan untuk anak-anak dengan gangguan perhatian , tetapi dengan kesabaran dan rencana yang efektif untuk mengatasi hambatan tersebut, anak dengan ADD/ ADHD dapat berkembang dalam kelas. Guru dan administrator dapat membantu untu memberikan dukungan ini.
d.      Sebagai orang tua dapat bekerja dengan anak Anda dan gurunya untuk menerapkan strategi praktis untuk belajar baik di dalam maupun keluar kelas. Dengan dukungan yang konsisten, strategi ini dapat membantu anak Anda menghadapi tantangan dan belajar meraih kesuksesan di sekolah. Dalam hal ini:
-          Menyiapkan anak Anda untuk sukses sekolah
-          Tips untuk bekerja dengan guru
-          Tips untuk mengelola gejala umum
-          Tips untuk membuat belajar menyenangkan
-          Tips untuk mengajarkan pekerjaan rumah
            Lingkungan kelas bisa menjadi tempat yang menantang untuk anak ADD/ ADHD. Tugas-tugas diberikan kepada para siswa yang mengalami paling sulit duduk diam, mendengarkan dengan tenang dan berkonsentrasi.
            Sebagai orang tua, Anda dapat membantu anak Anda mengatasi dengan kekurangan dan memenuhi tantangan yang ada di sekolah. Anda dapat memberikan dukunagn yang paling efektif: membantu anak Anda dengan strategi belajar di kelas dan berkomunikasi dengan guru tentang bagaimana anak Anda belajar terbaik. Dengan dukungan di rumah dan di tempat kerja strategi mengajar di kelas, tidak ada alasan mengapa anak-anak dengan ADD/ ADHD tidak dapat tumbuh subur di kelas.
            Tips untuk membantu guru
            Guru memiliki tanggung jawab yang berat: selain menggelola kelompok anak-anak dengan kepribadian dan gaya belajar berbeda, bahkan terdapat siswa dengan ADD/ ADHD. Guru dapat melakukan yang terbaik untuk membantu anak dengan gangguan perhatian belajar secara efektif, namun keterlibatan orang tua diperlukan untuk meningkatkan pendididkan anak. Orang tua mempunyai kekuatan untuk mengoptimalkan kesempatan anak untuk sukses dengan membantu pekerjaan yang dilakukan di kelas. Orang tua dapat langgsung mempengaruhi pengalaman anak di dalam kelas.

C.    Kerjasama Orang Tua dengan Guru di Sekolah
a.       Berkomunikasi dengan sekolah dan guru. Sebagai orang tua sekaligus advokat bagia anak. Orang tua dapat membuat komunikasi dengan sekolah anak yang konstruktif dan produktif. Cobalah untuk berbicara melalui email, telepon, atau bertemu secara langsung, berusaha untuk tenang, spesifik, dan di atas semua sikap-positif yang baik.
b.      Rencana ke depan
c.       Menciptakan tujuan bersama-sama. Diskusikan harapan orang tua untuk keberhasilan sekolah anak. Bersama-sama, menuliskan tujuan-tujuan spesifik dan realistis.
d.      Dengarkan dengan hati-hati
e.       Berbagi informasi tentang sejarah anak dengan guru yang melihat setiap hari
f.       Mengembangkan dan menggunakan rencana perialaku

D.    Tips untuk mengelola kelas bagi guru
            Siswa dengan ADD/ ADHD mungkin begitu mudah terganggu oleh suara-suara, orang yang lewat, atau pikiran mereka sendiri bahwa mereka sering kehilangan informasi penting di kelas. Anak-anak ini mengalami keuslitan tetap focus pada tugas-tugas yang membutuhkan usaha mental yang berkelanjutan. Mereka mungkin tampak mendengarkan tetapi tidak mampu untuk mempertahankan informasi.
a.       Memabntu anak-anak yang mnegalihkan perhatian dengan melibatkan fisik, meningkatkan gerakan, dan memperpendek waktu untuk melaksanakan tugas.
b.      Jauhkan kursi anak dari pintu dan jendela.
c.       Teman duduk bergantian bahkan tenpat duduknya. Bila mungkin, menggabungkan gerakan fisik menjadi pelajaran.
d.      Menulis informasi penting di mana anak dapat dengan mudah membaca referensi itu.
e.       Ingatkan siswa di mana informasi dapat ditemukan.
f.       Bagilah tugas besar menjadi tugas yang lebih kecil.
g.      Biarkan anak-anak sering istirahat.
h.      Anak-anak dengan gangguan kekurangan perhatian dapat mengguankan gerakan rahasia atau kata-kata, memuji anak untuk gangguan percakapan.
i.        Pastikan rencana perilaku yang ditulis dekat siswa.
j.        Berikan konsekuensi segera perilaku yang tidak disiplin.
k.      Kenali perilaku yang baik dengan suara keras. Jadilah spesifik dalam pujian Anda, pastikan anak tahu apa yang mereka lakukan dengan benar.
l.        Tulis jadwal untuk hari itu di papan tulis atau pada selembar kertas.
m.    Strategi untuk memerangi hiperaktif terdiri dari cara-cara kreatif untuk memungkinkan anak untuk bergerak dengan cara yang tepat pada waktu yang tepat. Melepaskan cara energy ini dapat membuat lebih mudah bagi anak untuk menjaganya tubuh lebih tenang selama waktu kerja.
n.      Mintalah anak-anak untuk menjalankan tugas atau melakukan suatu tugas bahkan jika itu hanya berarti berjalan melintasi ruangan untuk mepertajam pensil piring.
o.      Ajak anak untuk bermain olahraga, atau setidaknya menjalankan kegiatan sebelum dan sesudah sekolah.
p.      Sediakan bola, mainan kecil, atau objek lain untuk bermain dengan diam-diam di kursinya.
q.      Membantu anak-anak dengan susah mengikuti petunjuk berarti mengambil langkah-langkah untuk memecah dan memperkuat langkah-langkah yang terlibat dalam instruksi Anda, dan mengarahkan bila perlu.

E.     Obat untuk ADD/ ADHD
            Banyak sekolah mendorong orang tua untuk mengobati anak-anak dengan gangguan kurang perhatian, dan orang tua mungkin merasa yakin tentang apa artinya obat. Sementara obat-obatan yang dianggap dapat membantu tidak menyembuhkan bahkan menimbulkan efek samping. Sebagai orang tua, harus mempertimbangkan manfaat dan resiko obat untuk sebelum menggunakan dan memperlakukan bagi anak.
            Salah satu cara positif untuk menjaga perhatian anak terfokus pada belajar adalah proses pembelajaran yang menyenangkan. Menggunakan gerakan fisik dalam pelajaran, menghubungkan fakta-fakta penting untuk hal-hal sepele yang menarik, atau menciptakan lagu-lagu konyol yang membuat rincian mudah diingat dapat membantu anak Anda menikmati belajar dan bahkan mengurangi gelaja ADD/ ADHD.
            Membantu anak-anak dengan ADD/ ADHD menikmati matematika. Anak-anak yang memiliki gangguan kekurangan perhatian, mereka sering ingin terus menyentuh, atau mengambil bagian dalam sebuah pengalaman untuk belajar sesuatu yang baru. Dengan menggunakan permainan dan benda untuk menunjukkan konsep-konsep matematika, guru dapat menunjukkan anak bahwa matematika dapat bermakna dan menyenangkan.
            Bermain game, menggunakan kartu memori, dadu, atau domino untuk membuat nomor menyenangkan. Atau hanya menggunakan jari Anda dan jari kaki, mneyelipkan mereka atau menggeliat mereka ketika Anda menambahkan atau mengurangi.
            Menggambar, khusus untuk masalah kata, ilustrasi dapat membantu anak-anak lebih memahami konsep-konsep matematika. Jika masalah kata mengatakan ada dua belas mobil, membantu anak menarik mereka dari kemudi ke bagasi. Menciptakan singkatan konyol, dalam rangka untuk mengingat urutan operasi, misalnya, membuat sebuah lagu atau frase yang menggunakan huruf pertama dari setiap operasi dalam urutan yang benar. Membantu anak-anak menikamati membaca. Ada banyak cara untuk membuat membaca yang menarik, bahkan jika keterampilan itu sendiri cenderung menjadi sebuah perjuangan bagi anak-anak. Perlu diingat bahwa membaca pada tingkat yang paling dasar terdiri atas cerita dan emnarik informasi, hal bahwa semua anak-anak menikmati. Baca untuk anak-anak, mrmbuat membaca yang nyaman.[2]



BAB III
PEBUTUP

Kesimpulan
            Sebagai orang tua, Anda dapat membantu anak Anda mengatasi dengan kekurangan dan memenuhi tantangan yang ada di sekolah. Anda dapat memberikan dukunagn yang paling efektif: membantu anak Anda dengan strategi belajar di kelas dan berkomunikasi dengan guru tentang bagaimana anak Anda belajar terbaik. Dengan dukungan di rumah dan di tempat kerja strategi mengajar di kelas, tidak ada alasan mengapa anak-anak dengan ADD/ ADHD tidak dapat tumbuh subur di kelas.
            Guru memiliki tanggung jawab yang berat: selain menggelola kelompok anak-anak dengan kepribadian dan gaya belajar berbeda, bahkan terdapat siswa dengan ADD/ ADHD. Guru dapat melakukan yang terbaik untuk membantu anak dengan gangguan perhatian belajar secara efektif, namun keterlibatan orang tua diperlukan untuk meningkatkan pendididkan anak. Orang tua mempunyai kekuatan untuk mengoptimalkan kesempatan anak untuk sukses dengan membantu pekerjaan yang dilakukan di kelas. Orang tua dapat langgsung mempengaruhi pengalaman anak di dalam kelas.
            Salah satu cara positif untuk menjaga perhatian anak terfokus pada belajar adalah proses pembelajaran yang menyenangkan. Menggunakan gerakan fisik dalam pelajaran, menghubungkan fakta-fakta penting untuk hal-hal sepele yang menarik, atau menciptakan lagu-lagu konyol yang membuat rincian mudah diingat dapat membantu anak Anda menikmati belajar dan bahkan mengurangi gelaja ADD/ ADHD.

DAFTAR PUSTAKA

Santoso, Hargio. 2012. Cara Memahami dan Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus.          Yogyakarta: Gosyeng Publishing.

Wiyani, Nova Ardy. 2016. Buku Ajar Penanganan Anak Usia Dini Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.



                [1] Nova Ardy Wiyani, Buku Ajar Penanganan Anak Usia Dini Berkebutuhan Khusus, (Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2016), hlm 162.
                [2] Hargio Santoso, Cara Memahami dan Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus, (Yogyakarta: Gosyeng Publishing, 2012), hlm. 102-107.

PENANAMAN JIWA ANTI KORUPSI PADA ANAK-ANAK DI TK MASYITHOH AL FUTUH II




LAPORAN HASIL OBSERVASI
PENANAMAN JIWA ANTI KORUPSI PADA ANAK-ANAK DI
TK MASYITHOH AL FUTUH II
Di Pandes II Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta
Tahun ajaran 205/2016
Laporan Observasi ini disusun untuk memenuhi tugas UAS Mata Kuliah Filsafat Pendidikan
Dosen Pembimbing : Rohinah, M.Pd

                                                     
 






Disusun Oleh
Dian Fairuz Zahiyah 14430033
Kelas III A


PROGRM STUDY PENDIDIKAN GURU RAUDHATUL ATHFAL
FAKULTAS ILMU TARBIYAH dan KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015/2016 

KATA PENGANTAR


            Puji syukur marilah kita haturkan kepada Allah SWT, karena dengan izin-Nya saya dapat menyelesaikan laporan hasil observasi ini, yaitu dengan tema Penanaman Jiwa Anti Korupsi pada Anak-Anak Arab di TK Masyithoh Al Futuh. Laporan ini tidak lepas dari dukungan Dosen Pengampu yang bersangkutan yaitu Ibu Rohinah, M.Pd. dan juga pihak-pihak yang terkait secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, saya mengucapkan terimakasih sehingga pembuatan laporan observasi ini dapat selesai.
            Saya menyadari dalam pembuatan laporan hasil observasi ini tidak lepas dari kekurangan, apabila ada kelebihannya yaitu semata-mata merupakan hidayah dari Allah SWT dan apabila ada kekurangan itu merupakan keterbatasan saya sebagai seorang mahasiswa. Dengan demikian, saya mengharapkan kesediaan Ibu Dosen dan rekan-rekan untuk menyampaikan kritik dan saran demi kesempurnaan laporan hasil observasi ini. mudah-mudahan saya sebagai mahasiswa bisa lebih memperdalam ilmu yang ada, yang bermanfaat dan menjadi hidayah bagi kita semua.

                                                                                    Yogyakarta, 20 Desember 2015


Penyusun                    



DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR.........................................................................                         i
DAFTAR ISI.........................................................................................                       ii

BAB I PENDAHULUAN.....................................................................                       1
          1.1 Latar Belakang Masalah..........................................................                  1
          1.2 Perumusan Masalah.................................................................                    3
          1.3 Tujuan Penulisan......................................................................                     3

BAB II LADASAN TEORI.................................................................                       4
          2.1 Teori Anti Korupsi Secara Umum...........................................                    4
          2.2  Teori Anti Korupsi Menurut Ahli...........................................                    5
         
BAB III METODE PENELITIAN.....................................................                        9
          3.1 Subyek Penelitian ……………………………………………......             9
          3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian...................................................                   9
          3.3 Metode Penelitian …………………………………………….                  9
BAB 1V PEMBAHASAN ……………………………………………..                    12
          4.1 Hasil Observasi ……………………………………………….                  12

BAB V PENUTUP  ………………………………………………......                        18
          5.1 Kesimpulan ………………………………………………….                      18
          5.2 Saran ……………………………………………………...…                      18

DAFTA PUSTAKA ……………………………………………………                       19
LAMPIRAN ……………………………………………………………                      20

         
 


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
            Masa anak-anak adalah masa yang sangat menyenangkan, dimana anak-anak bisa melakukan dua kegiatan sekaligus yaitu belajar sambil bermain. Khususnya di sebuah lembaga pendidikan anak, anak akan diajarkan berbagai ilmu pengetahuan, tidak hanya ilmu pengetahuan saja, melainkan banyak hal. Seperti kegiatan-kegiatan yang yang dapat menunjang perkembangan perkembangan moral serta pembentukan jiwa karakter pada anak.
            Di sini pembentukan kebiasaan baik pada anak sangatlah berperan penting dalam perkembangan karakter pada anak usia dini. Khususnya penanaman jiwa nati korupsi sejak dini, untuk pembekalan dini agar kelak menjadikan orang-orang yang anti korupsi. Dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang mengarahkan anak pada karakter anti korupsi.
            Korupsi merupakan masalah serius karena dapat membahayakan stabilitas dan keamanan masyarakat, merusak nilai-nilai demokrasi dan moralitas dan membahayakan pembangunan ekonomi, sosial politik, sehingga perlu mendapat perhatian dari  pemerintah dan masyarakat serta lembaga sosial.
            Salah satu upaya untuk menekan tingginya angka korupsi adalah upaya pencegahan. Upaya pencegahan kejahatan korupsi harus dilakukan sedini mungkin, dan dimulai dari anak. Salah satu isu penting yang harus mendapat perhatian dalam upaya mencegah korupsi adalah menanamkan pendidikan anti korupsi di kalangan anak pra usia sekolah .
            Pendidikan anti korupsi yang diberikan bagi anak pra usia sekolah mengingat anak pada  usia pra sekolah sudah memiliki dasar tentang sikap moralitas terhadap kelompok sosialnya (orang tua, saudara dan teman sebaya). Melalui pengalaman berinteraksi dengan orang lain, anak akan belajar memahami tentang kegiatan atau perilaku mana yang baik/ boleh/diterima/ disetujui atau buruk/tidak boleh/ditolak/tidak disetujui. Berdasarkan pengalaman itu anak harus dilatih  atau dibiasakan mengenai bagaimana anak  harus bertingkah laku.
            Pendidikan anti korupsi hendaknya dilakukan melalui penerapan model-model pembelajaran yang dapat membentuk pribadi atau karakter anak yang berkaitan dengan anti korupsi. Model pembelajaran yang baik dan tepat akan membentuk moral anak menjadi generasi penerus bangsa yang anti korupsi, berperilaku baik dan jujur. Namun sebaliknya jika model pembelajaran anti korupsi yang diberikan pada anak pra usia sekolah tidak  tepat sesuai karakter anak, maka pendidikan anti korupsi di kalangan anak tersebut gagal, dengan demikian bangsa Indonesia  akan tetap melahirkan generasi korupsi sepanjang masa yang akhirnya menjadi budaya yang sulit dihilangkan.
            Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan untuk dibahas selanjutnya adalah, bagaimana model pembelajaran anti korupsi yang dapat diberikan kepada anak pra usia sekolah.
            Namun tentunya tidak semua hal akan berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Memiliki jiwa optimis sangatlah penting, namun apadaya jika takdir berkehendak lain. Kendala-kendala dalam merencanakan dan melaksanakan suatu kegiatan pembelajaran pasti ada kapanpun dan dimanapun itu. Apalagi di sini bahasannya mengeni penanaman jiwa anti korupsi yang tentunya cukup sulit bagi anak-anak. Maka kita harus senantiasa mawas diri serta pintar-pintar dalam membentuk dan merancang, serta mengevaluasi kegiatan pembelajaran tersebut terlaksana, agar bisa menjadikan kita lebih baik lagi dalam masa yang akan datang. selain pendidikan yang disampaikan pada saat pembelajaran, penanaman jiwa anti korupsi ini juga bisa diajarkan dimanapun.
            Pengawasan yang intens dari guru dan orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam memahami serta menidak lanjuti mengenai persoalan tersebut. Pengawasan yang intens tidak akan bisa dilakukan dengan maksimal jika kita tidak mengetahui atau melihat secara langsung bagaimana anak-anak tersebut melakukan kegiatannya di sekolah
            Nah, pada laporan hasil observasi ini saya akan mengkaji bagaimana penanaman jiwa nati korupsi padaanak-anak di TK Masyithoh Al Futuh. Tujuan dari pembuatan hasil laporan observasi ini selain untuk memenuhi tugas kewajiban yang telah diberikan, juga semata-mata agar dapat memahami lebih dalam bagaimana situasi dan kondisi pada anak usia dini dengan kita ikut terjun langsung di lapangan.

1.2 Perumusan Masalah
            Pada laporan hasil observasi ini memfokuskan pada penanaman jiwa nati korupsi pada anak-anak di kelas B1 dan B2 yang ada di TK Masyithoh Al Futuh.

1.3 Tujuan Penulisan
            Tujuan penulisan hasil laporan ini adalah selain untuk memenuhi kewajiban pada mata kuliah bahasa arab untuk RA juga untuk mengetahui bagaimana penanaman jiwa nati korupsianak-anak khususnya di kelas B1 dan B2 TK masyithoh Al Futuh.


 
BAB II
LANDASAN TEORI



2.1    Teori Anti Korupsi Secara Umum
            Secara umum, penjelasan para ahli mengenai korupsi dapat dikelompokkan menjadi tiga.Pertama, teori kesempitan yang mengatakan bahwa orang korupsi karena gajinya kecil, pendapatannya rendah, hidupnya susah, kebutuhan banyak. Maka solusinya, menurut teori ini, kesejahteraan perlu ditingkatkan dan gaji dinaikkan. Namun masalahnya, jika teori kesempitan ini benar, mengapa banyak pelaku korupsi itu ternyata orang-orang yang kehidupannya makmur? Maka disodorkanlah dua tipe korupsi: yaitu korupsi karena kesempitan hidup (corruption out of need) dan korupsi karena rakus (corruption out of greed). Seperti hasil penelitian Vito Tanzi (1998, hlm. 572), kenaikan gaji dan kecukupan tidak menjamin orang berhenti atau enggan korupsi.
            Teori Kedua boleh kita namakan teori kesempatan. Menurut teori ini, orang korupsi karena adanya kesempatan, kendati awalnya mungkin tidak punya keinginan atau rencana sama sekali. Namun teori ini pun bermasalah juga. Apakah semua orang yang punya kesempatan pasti korupsi? Bukankah pada kenyataannya tidak sedikit orang berkesempatan korupsi tetapi tidak melakukannya? Teori yang berpijak pada asumsi keliru ini menganggap manusia itu cenderung berbuat jahat. Maka dari itu semua pintu korupsi hendaklah dikunci rapat-rapat. Jangan sekali-sekali memberi ruang atau peluang walau sedikit atau sekecil apapun.
            Namun lagi-lagi masalahnya seperti kata Iwan Fals (1986), “Otak tikus memang bukan otak udang.” Otak koruptor tidak sama dengan otak komputer. Jika sudah niat korupsi, ada atau tidak ada kesempatan itu bukanlah persoalan. Kesempatan bisa dicari, bahkan diciptakan. Dimana ada kemauan, disitu ada jalan.
            Adapun yang Ketiga adalah teori kelemahan. Pendukung teori ini percaya bahwa tindak korupsi merebak akibat lemahnya tata kelola pemerintahan (poor governance), lemahnya sarana penegakan hukum (weak legal infrastructure), dan lemahnya mekanisme pengawasan (weak monitoring system). Namun, teori ini pada gilirannya terjebak dalam logika ‘muter-muter’ alias circular reasoning. Bahwasanya korupsi disebabkan oleh pemerintahan yang lemah, dan pemerintahan yang lemah disebabkan oleh korupsi. Pemerintahan mesti kuat agar korupsi lenyap, dan korupsi baru lenyap bila pemerintahan kuat. Jadilah pertanyaannya sekarang bagaimana memutus lingkaran setan ini.

2.2    Teori Anti Korupsi Menurut Ahli
            Korupsi sebagai sebuah penyakit moral sebenarnya telah diuraikan secara ilmiah oleh para ahli dan pakar. Terdapat setidaknya 4 teori yang dapat menjelaskan mengapa dan bagaimana korupsi dapat terjadi dan dilakukan. Keempatnya memiliki variabel dan factor yang berbeda satu sama lain. Vroom Misalnya, ia menjadikan variabel nilai atau Value sebagai variabel yang menentukan ekspektasi (expectation) dan motivasi (motivation) seseorang. Motivasi seseorang akan sangat tergantung pada harapan yang ingin ia wujudkan. Jika seseorang berekspektasi untuk mejadi kaya, maka motivasi kerjanya adalah menjadi kaya. Permasalahan kemudian timbul ketika ternyata kemampuan yang dimiliki tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Pada saat ini, values dalam dirinya lah yang akan menentukan, apakah ia harus melakukan dengan cara yang benar, atau sebaliknya dengan cara yang salah. Pada kasus korupsi, nilai yang tertanam dalam diri seorang koruptor, tentu adalah nilai yang salah. Itulah kemudian yang menyebabkan motivasi mereka untuk memperkaya diri harus dilakukan dengan cara yang salah dan melanggar hukum.
            Berdasarkan teori Vroom diatas, dapat disimpulkan bahwa nilai (value) akan sangat menentukan jalan yang dipilih oleh seseorang untuk meraih harapannya. Permasalahan kemudian kembali muncul, mana kala ternyata nilai yang dibangun dalam lingkungan tempat ia tinggal atau bekerja adalah nilai-nilai yang justru bertentangan dengan nilai yang disepakati masyarakat. Inilah yang menyebabkan korupsi biasa dilakukan secara melembaga dan terstruktur. Sebagai contoh, penyuapan atas berbagai proses tender proyek pekerjaan yang biasa dilakukan para pegawai negara dan dijustifikasi dengan alasan kekeluargaan atau memudahkan proyek. Bagi sebagian besar aparat negara, proses menerima uang dari perusahaan proyek mungkin dianggap sebagai hal yang sah dan biasa. Padahal menerima uang untuk memudahkan proses tender adalah salah satu jenis korupsi.
            Keserakahan dan ketamakan sebagai modus dalam berbagai kasus korupsi ini pernah diungkapkan oleh Jack Bologne. Melalaui Teori akar penyebab korupsinya yang disimplifikasi dengan sebuah akronim GONE, Bologne menyebut Greedy, Opportunity, Needs, dan Expose sebagai penyebab terjadinya korupsi. Menurut Jack Bologne, jika keempat variable tersebut digabungkan, maka akan menjadi formulasi yang paling tepat untuk terjadinya tindakan korupsi. Keserakahan (greedy) yang didukung oleh terbuka lebarnya kesempatan (opportunity) yang diperkuat oleh kebutuhan (needs) akan memunculkan keinginan untuk korupsi. Keinginan untuk melakukan korupsi ini juga diperkuat dengan hukuman yang menjerat (expose) kepada para pelaku korupsi.
            Teori dari Jack Bologne ini rasanya tepat sekali untuk menggambarkan situasi Indonesia pada saat ini. Korupsi yang sampai saat ini tidak kunjung tuntas dan terus menerus terjadi, khususnya pada birokrasi Indonesia, digambarkan Bologne terjadi melalui empat variabel sebab itu. Kasus Tommy yang telah diulas sebelumnya, dapat menggambarkan bahwa keempat variabel itu sangat menentukan. Keserakahan dan kebutuhan yang dimiliki oleh Tommy semakin dipermudah oleh kesempatan yang dimilikinya sebagai Kepala Sie Pelayanan, Konsultasi, dan Pelayanan Pajak di kantornya bekerja. Lingkungan tempatnya bekerja memberikan kesempatan bagi Tommy untuk melakukan tindakan korupsi. Di satu sisi, ternyata jeratan hukum yang selama ini telah dikenakan kepada para koruptor seperti Gayus, dan Dhana, ternyata tidak memberikan efek jera. Apalagi ternyata para penegak hukum pun dapat disuap untuk meminimalisasi hukuman yang akan diterima.
            Selain teori Jack Bologne, teori dari Klitgard juga tepat untuk menggambarkan berbagai kasus korupsi yang terjadi di Indonesia, khususnya pada level pembuat kebijakan dan level para pejabat negara dengan power dan authority  yang mereka miliki. Klitgard menyebutkan bahwa korupsi pada level pejabat negara dan pembuat kebijakan dapat terjadi karena monopoli kekuatan yang dimiliki pimpinan (monopoly of power) ditambah dengan tingginya kekuasaan yang dimiliki seseorang (discretion of official) tidak diiringi oleh pengawasan yang memadai dari aparat pengawas (minus accountability), maka akan terjadi korupsi. Korupsi dengan mekanisme seperti ini mungkin dapat menggambarkan kondisi pada masa orde baru. Kekuatan memonopoli kekuasaan yang dimiliki Pemerintah pada waktu itu, meliputi hampir seluruh aspek kehidupan. Di satu sisi, kekuatan diskresi dan menciptakan kebijakan sangat besar. Namun keduanga tidak diiringi oleh mekanisme pengawasan dari DPR yang pada saat itu lumpuh dan justru hanya sebagai alat Pemerintah. Kondisi ini kemudian membuka kesempatan dilakukannya korupsi, bahkan dalam skala besar dan melembaga.
            Pada era otonomi daerah sekarang ini, praktek korupsi juga ikut terdesentralisasi melalui penyerahan kewenangan Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah. Hal ini justru telah menggeser dan memperluas jarring-jaring korupsi yang sebelumnya sebagian besar hanya terjadi pada level Pemerintah Pusat, saat ini justru lebih banyak dilakukan pada level Pemerintah Daerah. Buktinya sampai saat ini telah sangat banyak kasus korupsi oleh Pemerintah Daerah yang terungkap dan dipidanakan. Hal ini sejalan dengan teori  Klitgard yang juga menjelaskan bahwa korupsi akan selalu mengikuti kekuasaan.
            Penegakkan hukum yang tegas dan memberikan efek jera, serta penanaman nilai yang mengakar kuat sejak dini adalah beberapa hal yang harus dilakukan untuk memutus mata rantai praktek korupsi kepada anak cucu kita nantinya. Saat ini, penegakan hukum yang dilakukan terhadap para koruptor terbilang masih setengah-setengah, sehingga belum memberikan efek jera, baik bagi koruptor itu sendiri, maupun bagi masyarakat pada umumnya. Dengan rendahnya efek jera yang terdapat pada hukuman trhadap koruptor, maka bibit-bibit koruptor baru akan terus bermunculan. Oleh karenanya, pemberantasan korupsi akan selalu seiring sejalan dengan penegakkan hukum.
            Pada masa yang akan datang, hasrat dan keinginan aparat negara untuk melakukan korupsi akan semakin besar. Hal ini disebabkan oleh semakin tingginya lifestyle masyarakat Indonesia beberapa tahun ke depan. Untuk mengikuti lifestyle  yang semakin berkembang, maka tidak menutup kemungkinan hasrat mengambil uang negara yang bukan miliknya juga akan terus meningkat.  Ramirez Torres telah mengantisipasi hal tersebut dengan menyebutkan bahwa penalty dan probability to be punished yang lemah tidak akan dapat menahan seseorang melakukan korupsi jika ternyata reward yang didapat seseorang berupa hasil dari praktek korupsinya jauh lebih besar dari keduanya. Oleh karenanya Pemerintah melalui badan penegak hukum harus menguatkan hukuman dan upaya pemberantasan korupsi. Semakin besar hukuman yang akan didapat oleh para pelaku korupsi, tentu akan semakin tinggi pula efek jera yang akan tercipta.



BAB III
METODE PENELITIAN



3.1    Subyek Penelitian
            Siswadi kelas B1 dan B2 serta Guru di TK Masyithoh Al Futuh.

3.2    Lokasi dan Waktu Observasi
            Penelitian observasi ini dilaksanakan di TK Masyithoh Al Futuh, yang dilakukan pada:
Hari, tanggal   : Selasa, 15 Desember 2015.
Waktu             : Pukul 7.30-11.00 WIB.
Tempat            : Kelas B1 dan B2 TK Masyithoh Al Futuh.
Alamat                        : Pandes II Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta 55791.

3.3    Metode Penelitian
            Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode yang dianggap relevan dan sesuai dengan pokok permasalahan yang dibahas dalam penelitian, yaitu:

1.      Jenis Penelitian
            Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti dari sisi pengumpulan datanya adalah penelitian lapangan (field research). Sedangkan jenis penelitian dari sisi analisis datanya bersifat deskriptif kualitatif.


2.      Sumber Data
Menurut Lofland dan Lofland, sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.Sumber data yang di peroleh dari Kepala Sekolah, Guru yang berjumlah 7dan Siswa yang keseluruhan berjumlah 83siswa, di kelas B1 dan B2 yaitu B1 20 siswa dan B2 22 siswa dan jumlah siswa kedua kelas tersebut adalah 42 anakdi TK Masyithoh Al Futuh.

3.      Metode pengumpulan data
a.       Observasi
            Menurut Ngalim Purwanto, observasi adalah metode atau cara-cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung. Metode ini digunakan untuk melihat dan mengamati secara langsung keadaan di lapangan agar peneliti memperoleh gambaran yang lebih luas tentang permasalahan yang diteliti.[1]
Menurut S. Margono, observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa, sehingga observasi berada bersama objek yang diselidiki, disebut observasi langsung. Sedangkan observasi tidak langsung adalah pengamatan yang dilakukan tidak pada saat berlangsungnya suatu peristiwa yang akan diselidiki, misalnya peristiwa tersebut diamati melalui film, rangkaian slide, atau rangkaian photo.[2]Observasi yang dilakukan untuk mengetahui keadaan lingkungan Sekolah, keadaan dalam proses pembelajaran serta hasil belajar yang diperoleh.
b.      Wawancara
            Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) sebagai pengaju/ pemberi pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) sebagai pemberi jawaban atas pertanyaan itu.[3]
            Sebelum melaksanakan wawancara para peneliti menyiapkan instrumen wawancara yang disebut pedoman wawancara (interview guide). Pedoman ini berisi sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang meminta untuk dijawab atau direspon oleh responden. Isi pertanyaan atau pernyataan bisa mencangkup fakta, data, pengetahuan, konsep, pendapat, persepsi atau evaluasi responden berkenaan dengan fokus masalah atau variabel-variabel yang dikaji dalam penelitian.[4]
            Wawancara yang akan dilakukan dengan wawancara tidak terstruktur, peneliti hanya berpedoman pada pokok permasalahan yang akan dibahas. Wawancara dilakukan kepada Kepala Sekolah, Guru, Siswa di TK Masyithoh Al Futuh.


c.       Dokumentasi
            Dokumentasi merupakan suatu cara pengumpulan data yang menghasilkan catatan-catatan penting yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, sehingga akan diperoleh data yang lengkap, sah dan bukan berdasar perkiraan.[5]
            Dokumentasi pada hasil observasi ini diambil dari kegiatan-kegiatan guru dan anak di TK Masyithoh Al Futuh pada hari Selasa, tanggal 15 Desember 2015.
d.      Metode analisis data
            Analisis data kualitatif menurut Bogdan & Biklen adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari, dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.[6]










BAB IV
PEMBAHASAN



4.1 Hasil Observasi
            Pada tanggal 15 Desember 2015 bertepatan dengan hari Selasa saya beserta kelompok saya berkunjung untuk melakukan observasi di TK Masyithoh Al Futuh, yang bertempat di Pandes II Wonokromo, Pleret, Bantul Yogyakarta. Berdasarkan hasil observasi melalui pengamatan dan pengumpulan data menjelaskan bahwa,
            Korupsi merupakan kejahatan yang sangat kompleks. Ditinjau dari sudut politik, korupsi merupakan faktor yang menggangu dan mengurangi kredibilitas pemerintah terutama dikalangan masyarakat terdidik. Dari sudut ekonomi, korupsi merupakan salah satu faktor yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi yang sangat merugikan negara dan masyarakat. Dari sudut kultural korupsi merusak moral dan karakter bangsa Indonesia yang mempunyai nilai-nilai luhur. Kompleksitas dari korupsi bisa dilihat dari pengertian korupsi itu sendiri yaitu:   
1.      Memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu badan yang secara langsung atau tidak langsung atau diketahui atau patut disangka dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
2.      Menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu badan dengan menyalahgunakan kewenangan karena jabatan atau kedudukan yang secara langsung atau tidak langsung dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
3.      Kejahatan tertentu dalam KUHP  yang menyangkut kekuasaan umum, pekerjaan pembangunan, penggelapan, pemerasan yang berhubungan dengan jabatan.
4.      Memberikan hadiah atau janji kepada pegawai negeri dengan mengingat sesuatu kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya.
5.      Tidak melapor setelah menerima pemberian atau janji kepada yang berwajib dalam  waktu yang singkat tanpa alasan yang wajar sehubungan dengan kejahatan jabatan.
Adapun tujuan dari pendidikan anti korupsi yang diberikan pada anak adalah :
·         Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang korupsi baik kepada anak, orang tua dan guru.
·         Agar anak kelak di kemudian hari tidak melakukan korupsi karena dapat merugikan orang lain, dan korupsi sudah menjadi penyakit mental.
·         Sebagai upaya pencegahan atau preventif secara dini akan bahaya-bahaya korupsi dan menciptakan budaya anti korupsi yang dimulai dari pendidikan di rumah dan sekolah.
·         Mendidik anak sebagai generasi penerus bangsa yang memiliki sifat jujur.
·         Mendidik anak untuk mempunyai pola hidup yang penuh tanggung jawab dan hati-hati baik dalam ucapan maupun tindakan.
·         Sebagai upaya pendidikan ahklaq yang nyata dalam kehidupan anak pra usia sekolah di rumah dan di sekolah.
            Anak dengan usia 2-3 tahun dikenal dengan masa batita. Pada usia ini anak masih bersifat malu dan ragu-ragu. Sedangkan anak dengan usia 4-5 tahun dikenal dengan masa prasekolah. Pada usia ini anak sudah mulai mempunyai inisiatif dan mempunyai rasa bersalah.  
            Anak adalah generasi penerus cita-cita bangsa, sebagai sumber daya manusia (potensi masa depan bangsa). Untuk membentuk generasi anti korupsi saat ini, maka dimulai dari membangun  karakter anak pra usia sekola sedini mungkin. Membangun karakter (character building) berarti proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa sehingga berbentuk unik, menarik dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain.
            Untuk mengukir jiwa anak pra usia sekolah menjadi karakter seorang anak yang memiliki nilai moral baik maka diperlukan model ukiran apa yang tepat untuk pembentukan karakter  seorang anak. Model ukiran yang digunakan bagi pembentukan karakter anak adalah melalui model pembelajaran. Model pembelajaran inilah yang akan diberikan kepada anak baik di dalam keluarga maupun di sekolah ( kelompok bermain, taman bermain) , taman kanak-kanak (kindergarten)
            Model-model pembelajaran yang membangun karakter anti korupsi yang dapat diberikan kepada anak pra usia sekolah berupa pengembangan nilai nilai agama dan moral antara lain :
1.                     Anak diajar berdoa sebelum dan seusai melakukan kegiatan sesuai keyakinannya,
2.                     Berbuat baik terhadap semua mahluk Tuhan,
3.                     Melaksanakan  kegiatan ibadah sesuai aturan menurut keyakinannya,
4.                     Bersikap jujur, ( anak diajari untuk tidak berbohong/menipu )
5.                     Menyebutkan mana yang benar dan salah pada suatu persoalan, ( anak diajar untuk bersikap adil dalam membela teman )
6.                     Menunjukan perbuatan yang benar dan salah,
7.                     Menyebutkan perbuatan baik dan buruk, ( anak diajar bahwa perbuatan mencuri atau mengambil barang milik orang lain itu tidak baik)
8.                     Melakukan perbuatan yang baik pada saat bermain, (anak diajar tidak mengambil mainan teman, harus minta ijin kalau mau pinjam mainan teman),
9.                     Selalu mengucapkan terima kasih jika memperoleh sesuatu
10.                 Berperilaku hidup hemat ( air, listrik, peralatan sendiri)
11.                 Melakukan kegiatan yang bermanfaat pada saat dibutuhkan,
            Pendidikan anti korupsi dapat diberikan orang tua kepada anak pra usia sekolah di lingkungan keluarga melalui model pembelajaran yaitu : 
1.        Tidak memberi imbalan hadiah yang bersifat materi, tetapi berikan imbalan hadiah yang bersifat moral. Kalangan orang tua atau pendidik dapat membedakan pemberian hadiah dengan cara menyuap atau sogokan. Sogokan adalah sesuatu yang diberikan untuk membujuk atau mempengaruhi anak untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Hal tersebut kurang baik karena : anak akan terdorong untuk bertingkah laku tertentu jika ia dibayar dan tidak melatih kedisiplinan diri anak, anak tidak bertanggung jawab terhadap perilakunya, anak tidak akan melakukan perbuatan yang diinginkan jika dirinya mengganggap jumlah imbalannya kurang, anak akan selalu mencari keuntungan.Pemberian hadiah bersifat moral yang diberikan pada anak seperti memuji dan menyanjungnya di depan orang lain, menciumnya, menggunakan kalimat kalimat yang memberikan dorongan, misalnya “terima kasih” sangat bagus” pintar.
2.        Tidak memberi hukuman yang melebihi dosis sehingga menyebabkan racun bagi anak. Tetapi memberikan hukuman yang dapat menjadi obat bagi anak. Fungsi hukuman mempunyai peran yang sangat penting dalam pendidikan anak yaitu : menghilangkan pengulangan suatu tindakan yang tidak diinginkan, mendidik anak supaya lebih mengerti peraturan apabila dia tidak berbuat kesalahan maka mendapatkan hukuman dan tidak apabila dia tidak berbuat kesalahan, supaya anak merasa terdorong atau termotivasi lagi agar tidak melakukan kesalahan lagi.
3.        Mengajak anak menabung uangnya, (anak belajar mengelola keuangannya sehinga memahami kegunaan dari menabung).
4.        Memberikan contoh atau teladan yang baik pada anak. ( ketika ada tamu yang tidak diharapkan, maka jangan mengatakan kepada sianak “ beri tahu dia bahwa ibu/ayah sedang tidak ada ).
5.        Memberi pemahaman atau jawaban yang benar terhadap masalah atau pertanyaan yang disampaikan anak. Anak pandai akan banyak bertanya apa yang ia belum ketahui dan membuat jengkel orang dewasa.Pertanyaan anak mungkin terdengar konyol, sehingga orang tua akan menjawab apa adanya, atau berbohong agar anak berhenti bertanya. Keengganan untuk menjawab membuat anak menerima informasi yang salah dan tidak lengkap, dan menyebabkan anak tak mampu mengambil keputusan yang tepat jika persoalan serupa dating lagi.
6.        Tidak memaksa tetapi terus memotivasi anak. Agar permasalahan cepat selesai, banyak orang tua mengambil jalan pintas, dengan memaksa anak agar menuruti keinginan orang tua. Seorang ibu memaksa seorang kakak untuk menyerahkan mainan kepada adiknya yang menangis karena menginginkan mainan kakaknya. Padahal dengan berhentinya adik menangis masalah bukannya selesai malah menciptakan masalah baru, yaitu tangisan menjadi senjata untuk adik mencapai keinginannya dan kakak menjadi kecewa karena haknya dirampas.
            Model pembelajaran tersebut jika diterapkan untuk anak dengan baik dan tepat maka akan membentuk pribadi anak dengan karakter yang baik pula. Pendidikan suatu bangsa mencirikan karakter bangsa tersebut. Pendidikan karakter yang ditanamkan dari dini bagi anak pra sekolah di Indonesia melalui model-model pembelajaran tersebut di atas akan bermanfaat dalam mewujudkan karakter bangsa Indonesia yang anti korupsi. Seperti pepatah mengatakan kecil beranjak-anjak, besar terbawah-bawah. Pepatah ini mengandung arti bahwa anak kalau dari kecil tidak dididik karakternya (mental dan moral) dengan baik, maka sampai besarpun ia menjadi anak yang tidak memiliki karakter yang baik, sebaliknya anak yang dari kecil dibina karakternya dengan baik maka sampai ia besar menjadi anak yang berkarakter baik.
            Dengan model pembelajaran anti korupsi yang diberikan pada anak pra usia sekolah sedini mungkin, dapat membentuk anak menjadi anak yang memiliki jiwa anti korupsi. Anak akan menjadi generasi penerus bangsa yang memiliki potensi sumber daya manusia yang berkarakter jujur dan bartanggung jawab serta  memiliki moral yang baik.
BAB V
PENUTUP



5.1 Kesimpulan
            Berdasarkan hasil observasi kami di TK Masyithoh Al Futuh, dapat kami tarik kesimpulan bahwa penerapan jiwa anti korupsi pada anak-anak di TK Masyithoh Al Futuh sudah berjalan dengan baik, secara langsung maupun tidak langsung. Penerapan jiwa anti korupsi itu sendiri bertujuan untuk membentuk karakter bangsa yang senantiasa bersikap serta bermoral anti korupsi. Karena kelak mereka-mereka yang telah terbiasa dengan budaya yang baik yaitu anti korupsi maka nantinya akan menghasilkan anak bangsa yang berkepribadian dan bermoral yang luhur untuk memajukan serta mensejahterakan bangsa ini dengan tanpa adanya korupsi di Indonesia.
5.2 Saran
            Saran yang dapat saya sampaikan untuk kelas B1 dan B2 di TK Masyithoh Al Futuh ini adalah lebih memperhatikan lagi bagaimana perkembangan karakter dan moral pada anak usia dini, dengan menggunakan menerapkan budaya anti korupsi sejak usia dini, sehingga bisa mencetak anak-anak yang berkualitas, berintelektual, dan tidak lupa dengan budi dan moral serta wawasan ke Islaman yang dalam.






DAFTAR PUSTAKA



Susanto, Ahmad, Perkembangan Anak Usia Dini, Jakarta: Kencana, 2011.
Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008.
Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010.
Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja   Rosdakarya, 2008.
Sukmadinata, Nana Syaodih, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009.











LAMPIRAN




IMG_20151211_095512.jpg



IMG_20151211_095250.jpg
 























Gambar 1. Tampak depan TK Masyithoh Al Futuh.









IMG_20151215_075654.jpg
IMG_20151215_080008.jpg
 









Gambar 2. Anak –anak berumpul di lapangan










IMG_20151215_084759.jpg

IMG_20151215_081500.jpg

 










Gambar 3. Proses belajar  mengajar di kelas.


1450151200641.jpg,1450151320826.jpg,IMG_20151215_091533_HDR.jpg,IMG_20151215_090136.jpg 











                                                                                








                                                                                

Gambar 5. Dokumen foto saya bersama anak-anak di kelas B1 dan B2.


[1]Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009) hal. 94.
[2] Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010), hal. 158.
[3] Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian…., hal. 127.
[4] Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), hal. 216
[5] Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian…, hal. 158.

[6]  Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif…, hal. 248.