LAPORAN HASIL OBSERVASI
PERKEMBANGAN KOGNITIF, KREATIVITAS dan
BAHASA
TK AISIYAH BUSTANUL ATHFAL
WONOKROMO II
Di Pleret, Bantul, Yogyakarta Tahun
ajaran 205/2016
Laporan Observasi ini disusun untuk
memenuhi tugas Mata Kuliah Perkembangan Perserta Didik
Dosen Pembimbing : Drs. Ichsan,
M.Pd
Disusun Oleh
Dian Fairuz Zahiyah 14430033
Kelas III A
PROGRM
STUDY PENDIDIKAN GURU RAUDHATUL ATHFAL
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH dan KEGURUAN
UIN
SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur marilah kita haturkan
kepada Allah SWT, karena dengan izin-Nya saya dapat menyelesaikan laporan hasil
observasi ini, yaitu dengan tema Perkembangan Kognitif, Motorik, Kreativitas,
dan Bahasa di TK Aisyiah Bustanul Athfa Wonokromo II. Laporan ini tidak lepas
dari dukungan Dosen Pengampu yang bersangkutan yaitu Bapak Drs. Ichsan, M.Pd.
dan juga pihak-pihak yang terkait secara langsung maupun tidak langsung. Oleh
karena itu, saya mengucapkan terimakasih sehingga pembuatan laporan observasi
ini dapat selesai.
Saya menyadari dalam pembuatan
laporan hasil observasi ini tidak lepas dari kekurangan, apabila ada
kelebihannya yaitu semata-mata merupakan hidayah dari Allah SWT dan apabila ada
kekurangan itu merupakan keterbatasan saya sebagai seorang mahasiswa. Dengan
demikian, saya mengharapkan kesediaan Bapak Dosen dan rekan-rekan untuk
menyampaikan kritik dan saran demi kesempurnaan laporan hasil observasi ini.
mudah-mudahan saya sebagai mahasiswa bisa lebih memperdalam ilmu yang ada, yang
bermanfaat dan menjadi hidayah bagi kita semua.
Yogyakarta,
13 Desember 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR......................................................................... i
DAFTAR ISI......................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah.......................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah................................................................. 2
1.3 Tujuan Penulisan...................................................................... 2
BAB II LADASAN TEORI................................................................. 3
2.1 Perkembangan Kognitif........................................................... 3
2.2
Perkembangan Kreativitas...................................................... 5
2.3 Perkembangan Bahasa............................................................. 7
BAB III METODE PENELITIAN..................................................... 9
3.1
Subyek Penelitian ……………………………………………...... 9
3.2
Lokasi dan Waktu Penelitian................................................... 9
3.3 Metode Penelitian
……………………………………………. 9
BAB 1V PEMBAHASAN
…………………………………………….. 13
4.1 Hasil Observasi
………………………………………………. 13
BAB V PENUTUP ………………………………………………...... 16
5.1 Kesimpulan …………………………………………………. 16
5.2 Saran ……………………………………………………...… 16
5.3 Lampiran …………………………………………………….. 17
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Masa
anak-anak adalah masa yang sangat menyenangkan, dimana anak-anak bisa melakukan
dua kegiatan sekaligus yaitu belajar sambil bermain. Khususnya di sebuah
lembaga pendidikan anak, anak akan diajarkan berbagai ilmu pengetahuan, tidak
hanya ilmu pengetahuan saja, melainkan banyak hal. Seperti kegiatan-kegiatan
yang yang dapat menunjang perkembangan kreativitas, motorik, sosial dan bahasa
pada anak usia dini.
Di sisi lain tentunya tidak semua
hal akan berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Memiliki jiwa optimis sangatlah penting, namun apadaya jika takdir berkehendak
lain. Kendala-kendala dalam merencanakan dan melaksanakan suatu program kegiatan pasti ada kapanpun
dan dimanapun itu. Maka kita harus senantiasa mawas diri serta pintar-pintar
dalam mengevaluasi setelah program kegiatan tersebut terlaksana, agar bisa
menjadikan kita lebih baik lagi dalam masa yang akan datang.
Pengawasan yang intens dari guru dan
orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam memahami serta menidak
lanjuti mengenai persoalan tersebut. Pengawasan yang intens tidak akan bisa
dilakukan dengan maksimal jika kita tidak mengetahui atau melihat secara
langsung bagaimana anak-anak tersebut melakukan kegiatannya di sekolah.
Setidaknya kita juga harus berpartisipasi dalam melihat sendiri perkembangan
anak usia dini, bagaimana anak-anak bermain, bersosial dengan teman-teman
sebayanya, bagaimana anak-anak dalam menangkap ilmu yang telah disampaikan guru
pada saat belajar mengajar, serta kreativitas anak-anak dalam menggali bakat
dan minat yang dimilikinya.
Nah, pada laporan hasil observasi
ini saya akan menjelaskan bagaimana dan apa saja kegiatan anak-anak pada usia
dini di lembaga pendidikan anak khususnya TK ABA Wonokromo. Selain kegiatan
anak-anak, dalam laporan hasil observasi ini, saya akan mengkaji bagaimana
perkembangan kognitif, motorik, kreativitas dan bahasa anak-anak di TK ABA
Wonokromo II. Tujuan dari pembuatan hasil laporan observasi ini selain untuk
memenuhi tugas kewajiban yang telah diberikan, juga semata-mata agar dapat
memahami lebih dalam bagaimana situasi dan kondisi pada anak usia dini dengan
kita ikut terjun langsung di medan.
1.2 Perumusan Masalah
Pada
laporan hasil observasi ini memfokuskan pada perkembangan kognitif, motorik, kreativitas
dan bahasa dari kelas B2 yang ada di TK Aisyiah Bustanul Athfal Wonokromo II.
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan
penulisan hasil laporan ini adalah selain untuk memenuhi kewajiban pada mata
kuliah perkembangan peserta didik juga untuk mengetahui bagaimana aktivitas
anak-anak usia dini di sekolah, dan juga untuk mengetahui bagaimana
perkembangan kognitif, motorik, kreativitas, dan bahasa anak-anak khususnya di
kelas B2 TK Aisyiah Bustanul Athfal Wonokromo II.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
2.1
Perkembangan
Kognitif
A.
Teori Perkembangan kognitif dari Jean
Piaget
Jean Piaget terkenal dengan teori
kognitifnya yang berpengaruh penting terhadap perkembangan konsep kecerdasan.
Psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980 ini pada awalnya lebih tertarik pada
bidang biologi dan filsafat khususnya epistemologi. Namun dalam perjalanan
karirnya sebagai peneliti di Binet Testing Laboratory di Paris, Piaget lebih
fokus pada bidang psikologi Pengertian kognisi sebenarnya meliputi aspek-aspek
struktur intelek yang digunakan untuk mengetahui sesuatu. Piaget menyatakan
bahwa perkembangan kognitif bukan hanya hasil kematangan organisme, bukan pula
pengaruh lingkungan semata, melainkan hasil interaksi diantara keduanya. Jean
Peaget mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka
sendiri. Dalam pandangan Piaget, terdapat dua proses yang mendasari
perkembangan dunia individu, yaitu pengorganisasian dan penyesuaian (adaptasi).
Jean Piaget menyebut bahwa struktur
kognitif sebagai skemata (Schemas), yaitu kumpulan dari skema-skema. Seseorang
individu dapat mengikat, memahami, dan memberikan respons terhadap stimulus
disebabkan karena bekerjanya skemata ini. Skemata ini berkembang secara
kronologis, sebagai hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya. Piaget
memakai istilah scheme dengan istilah struktur. Scheme adalah pola tingkah laku
yang dapat diulang . Scheme berhubungan dengan :
1. Refleks-refleks
pembawaan: misalnya bernapas, makan, minum.
2. Scheme mental ; misalnya scheme
of classification, scheme of operation. ( pola tingkah laku yang masih sukar
diamati seperti sikap, pola tingkah laku yang dapat diamati).
B.
Pengertian
Kognitif
Kognitif adalah salah satu ranah
dalam taksonomi pendidikan. Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual
yang terdiri dari tahapan : pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention),
penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi
(evaluation). Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk
mengembangkan kemampuan rasional (akal).
Teori kognitif lebih menekankan
bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang
dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu kognitif berbeda dengan teori
behavioristik, yang lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku yang
diwujudkan dengan cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang kepada
dirinya.
Dalam kehidupan sehari-hari kita
sering mendengar kata kognitif. Dari aspek tenaga pendidik misalnya. Seorang
guru diharuskan memiliki kompetensi bidang kognitif. Artinya seorang guru harus
memiliki kemampuan intelektual, seperti penguasaan materi pelajaran,
pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan cara menilai siswa dan
sebagainya
2.2
Perkembangan
Kreativitas
Teori Kreatifitas
A.
Teori
Psikoanalisis
Pribadi kretif dipandang sebagai
seorang yang pernah mengalami traumatis, yang dihadapi dengan memunculkan
gagasan-gagasan yang disadari dan tidak disadari bercampur menjadi pemecahan
inovatif dari trauma.
Teori
ini terdiri dari:
1. Teori
Freud
Freud menjelaskan proses kretif dari
mekanisme pertahanan (defence mechanism). Freud percaya bahwa meskipun
kebanyakan mekanisme pertahanan menghambat tindakan kreatif, mekanisme
sublimasi justru merupakan penyebab utama kreativitas karena kebutuhan seksual
tidak dapat dipenuhi, maka terjadi sublimasi dan merupakan awal imajinasi.
2. Teori
Ernst Kris
Erns Kris (1900-1957) menekankan
bahwa mekanisme pertahanan regresi seiring memunculkan tindakan
kreatif. Orang yang kreatif menurut teori ini adalah mereka yang paling mampu
“memanggil” bahan dari alam pikiran tidak sadar. Seorang yang kreatif tidak
mengalami hambatan untuk bias “seperti anak” dalam pemikirannya. Mereka
dapat mempertahankan “sikap bermain” mengenai
masala-masalah serius dalam kehidupannya. Dengan demikian mereka m ampu malihat
masalah-masalah dengan cara yang segar dan inovatif, mereka melakukan regresi
demi bertahannya ego (Regression in The Survive of The Ego)
3. Teori
Carl Jung
Carl Jung (1875-1967) percaya bahwa
alam ketidaksadaran (ketidaksadaran kolektif) memainkan peranan yang amat
penting dalam pemunculan kreativitas tingkat tinggi. Dari ketidaksadaran
kolektif ini timbil penemuan, teori, seni dan karya-karya baru lainnya.
B.
Teori
Humanistik
Teori Humanistik melikat kreativitas
sebagai hasil dari kesehatan psikologis tingkat tinggi. Teori Humanistik
meliputi:
1. Teori
Maslow
Abraham Maslow (1908-1970)
berpendapat manusia mempunyai naluri-naluri dasar yang menjadi nyata
sebagai kebutuhan. Kebutuhan tersebut adalah: Kebutuhan fisik/biologis. Kebutuhan
akan rasa aman. Kebutuhan akan rasa dimiliki (sense of belonging) dan cinta. Kebutuhan
akan penghagaan dan harga diri. Kebutuhan aktualisasi / perwujudan diri. Kebutuhan
estetik.
2. Teori
Rogers
a. Keterbukaan terhadap pengalaman
b.
Kemampuan untuk menilai situasi patokan pribadi seseorang (internal locus of
evaluation)
c. Kemampuan untuk bereksperimen, untuk
“bermain” dengan konsep-konsep.
C.
Teori
Cziksentmihalyi
Ciri pertama yang memudahkan
tumbuhnya kreativitas adalah Predisposisi genetis (genetic predispotition).
Contoh seorang yang system sensorisnya peka terhadap warna lebih mudah menjadi
pelukis, peka terhadap nada lebih mudah menjadi pemusik.
2.3
Perkembangan
Bahasa
Salah
satu bidang pengembangan dalam pertumbuhan kemampuan dasar di taman kanak-kanak
adalah pengembangan bahasa. Bahasa memungkinkan anak untuk menerjemahkan
simbol-simbol untuk berkomunikasi dan berpikir.Bahasa juga salah satu cara
untuk berinteraksi dan juga berkaitan dengan perkembangan kognitif. Menurut
Vygotsky dan Wolfolk (1995), menyatakan bahwa Bahasa merupakan alat untuk
mengekspresikan ide dan bertanya, dan bahsa juga menghasilkan konsep dan
kategori-kategori untuk berfikir.
Menurut
syaodih (2001), bahwa aspek bahasa berkembang dimulai dengan peniruan bunyi dan
meraba. Perkembangan selanjutnya berhubungan erat dengan perkembangan
intelektual dan sosial.Bahasa merupakan alat untuk berfikir.Berfikir merupakan
suatu proses memahami dan melihat hubungan. Proses ini tidak mungkin dapat
berlangsung dengan baik tanpa alat bantu, yaitu bahasa. Bahasa juga merupakan
alat berkomunikasi dengan orang lain dan
kemudian berlangsung dalam sutu interaksi sosial.
Bahasa
adalah alat untuk berfikir, mengekspresikan diri dan berkomunikasi.
Keterampilan bahasa juga penting dalam rangka pembentukan konsep,informasi,dan
pemecahan masalah. Melalui bahasa pula kita dapat memahami komunikasi pikiran
dan perasaan.[1]
Schaerlaekens
(1977), membedakan perkembangan bahasa pada masa awal anak-anak ini atas tiga,
yaitu periode pra-lingual (kalimat-satu-kata),periode
lingual-awal (kalimat-dua-kata) dari
1-2,5 tahun,dan periode differensiasi (kalimat-tiga
kata dengan bertambahnya diferensiasi pada kelompok kata dan kecapan verbal
)(Monks,Knoers & Haditono,2001).
Bahasa
merupakan alat untuk berkomunikasi. Melalui bahasa manusia dapat berinteraksi
dan berkomunikasi mengemukakan hasil pemikirannya dan dapat mengekspresikan
perasaannya. Dengan bahasa orang dapat membuka cakrawala berfikir dan
mengmbangakan wawasannya. Anak-anak belajar bahasa melalui interaksi dengan
lingkungannya baik lingkungan rumah,sekolah, atau masyrakat. Di sekolah anak
belajar bahasa melalui interaksi dengan guru, teman sebaya dan orang dewasa
lainnya. Guru atau pendidik anak usia dini perlu memahami tentang perkembangan
dan pengembangan bahasa anak.[2]
Menurut
Ensiklopedia Indonesia (1980) bahasa adalah kumpulan kata dan aturan yang tetap
di dalam menggabungkannya berupa kalimat, merupakan system bunyi yang
melambangkan pengertian-pengertian tertentu. Menurut Fred Ebbeck (1989) bahasa
dapat dimaknai sebagai suatu system tanda,baik lisan maupun tulisan merupakan
system komunikasi antar manusia. Menurut Yus Badudu (1989) bahasa merupakan
alat penghubung atau komunikasi antar anggota masyarakat yang terdiri dari
individu-individu yang menyatakan perasaan, dan keinginannya. Bahasa sebagai
suatu system lambing bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
Lebih lanjut menurut Broomly dalam Nurbiana Dieni dkk (2005) mendefinisikan
bahasa sebagai system simbol yang teratur untuk mentransfer berbagai ide maupun
informasi yang terdiri dari simbol-simbol visual maupun verbal. Pendapat lain
tentang bahasa dikemukakan oleh Eliason (1994) bahwa bahasa meliputi berbicara,
menyimak,menulis dan ketrampilan membaca. Sedangkan menurut Hui Ling Chua
(2003) bahasa memungkinkan anak untuk menterjemahkan pengalaman mentah ke dalam
symbol-simbol yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dan berfikir.Menurut
Eliason, bahasa adalah alat untuk berfikir, mengekspresikan diri dan
berkomunikasi.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
3.1
Subyek
Penelitian
Anak-anak
di kelas B2 dan Guru di TK Aisyiah Bustanul Athfal Wonokromo II .
3.2
Lokasi
dan Waktu Observasi
Penelitian
observasi ini dilaksanakan di TK Aisyiah Bustanul Athfal Wonokromo II, yang
dilakukan pada:
Hari, tanggal : Kamis, 10 Desember 2015.
Waktu : Pukul 7.30-11.00 WIB.
Tempat : Kelas B2 TK ABA Wonokromo II.
3.3
Metode
Penelitian
Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan metode yang dianggap relevan dan sesuai
dengan pokok permasalahan yang dibahas dalam penelitian, yaitu:
1.
Jenis
Penelitian
Jenis
penelitian yang digunakan oleh peneliti dari sisi pengumpulan datanya adalah
penelitian lapangan (field research).
Sedangkan jenis penelitian dari sisi analisis datanya bersifat deskriptif
kualitatif.
2.
Sumber
Data
Menurut Lofland dan Lofland, sumber
data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan,
selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.[3] Sumber
data yang di peroleh dari Kepala Sekolah, Guru yang berjumlah 4 dan Siswa yang
keseluruhan berjumlah 44 anak, yang dikhususkan di kelas B2 yaitu dengan jumlah
16 anak di TK ABA Wonokromo II.
3.
Metode
pengumpulan data
a. Observasi
Menurut
Ngalim Purwanto, observasi adalah metode atau cara-cara menganalisis dan
mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat
atau mengamati individu atau kelompok secara langsung. Metode ini digunakan
untuk melihat dan mengamati secara langsung keadaan di lapangan agar peneliti
memperoleh gambaran yang lebih luas tentang permasalahan yang diteliti.[4]
Menurut S. Margono, observasi
diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala
yang tampak pada objek penelitian. Pengamatan dan pencatatan yang dilakukan
terhadap objek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa, sehingga
observasi berada bersama objek yang diselidiki, disebut observasi langsung.
Sedangkan observasi tidak langsung adalah pengamatan yang dilakukan tidak pada
saat berlangsungnya suatu peristiwa yang akan diselidiki, misalnya peristiwa
tersebut diamati melalui film, rangkaian slide, atau rangkaian photo.[5]
Observasi yang dilakukan untuk
mengetahui keadaan lingkungan Sekolah, keadaan dalam proses pembelajaran serta
hasil belajar yang diperoleh.
b. Wawancara
Wawancara
adalah percakapan dengan maksud tertentu oleh dua pihak, yaitu pewawancara
(interviewer) sebagai pengaju/ pemberi pertanyaan dan yang diwawancarai
(interviewee) sebagai pemberi jawaban atas pertanyaan itu.[6]
Sebelum
melaksanakan wawancara para peneliti menyiapkan instrumen wawancara yang
disebut pedoman wawancara (interview
guide). Pedoman ini berisi sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang meminta
untuk dijawab atau direspon oleh responden. Isi pertanyaan atau pernyataan bisa
mencangkup fakta, data, pengetahuan, konsep, pendapat, persepsi atau evaluasi
responden berkenaan dengan fokus masalah atau variabel-variabel yang dikaji
dalam penelitian.[7]
Wawancara yang akan dilakukan dengan
wawancara tidak terstruktur, peneliti hanya berpedoman pada pokok permasalahan
yang akan dibahas. Wawancara dilakukan kepada Kepala Sekolah, Guru, Siswa di TK
ABA Wonokromo II.
c. Dokumentasi
Dokumentasi
merupakan suatu cara pengumpulan data yang menghasilkan catatan-catatan penting
yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, sehingga akan diperoleh data
yang lengkap, sah dan bukan berdasar perkiraan.[8]
Dokumentasi
pada hasil observasi ini diambil dari kegiatan-kegiatan guru dan anak di TK ABA
Wonokromo II pada hari Kamis, tanggal 15 Desember 2015.
d. Metode
analisis data
Analisis
data kualitatif menurut Bogdan & Biklen adalah upaya yang dilakukan dengan
jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi
satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari, dan menemukan pola,
menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang
dapat diceritakan kepada orang lain.[9]
BAB
IV
PEMBAHASAN
4.1
Hasil Observasi
Pada
tanggal 10 Desember 2015 kami berkunjung untuk melakukan observasi di TK
Aisyiah Bustanul Athfal Wonokromo II, Pleret, Bantul, Yogyakarta, di sana kami
bertemu dengan anak-anak usia dini yang cukup antusias dengan kedatangan kami. Dari
hasil pengamatan kami selama obseervasi anak-anak di kelas B2 memulai
aktivitasnya dari bell masuk kelas yang dibunyikan pada pukul 07.30 WIB,
anak-anak langsung berbaris rapi di depan kelas. Setelah anak-anak selesai
berbaris mereka bersama-sama melakukan sholat berjama’ah dan dilanjutkan masuk kelas
untuk mengikuti pembelajaran pertama.
Pembelajaran
pertama pada pukul 08.15 WIB dan dibuka dengan membaca do’a sebelum belajar
bersama. Pada kegiatan awal setelah berdo’a bersama anak-anak melakukan
rutinitas, yaitu dengan membaca surat-surat pendek, membaca beberapa hadits
pendek, dan do’a sehari-hari. Setelah itu bersama anak-anak diberikan motivasi
dengan bernyanyi serta bertepuk tangan. Setelah itu bu guru memberikan materi
pelajaran. Missalnya yaitu mengerjakan tugas yang telah tersedia di majalah
mereka, menghubungkan anak panah, mencari jejak si gundul, mewarnai gambar pemandangan, berhitung, dan menebali huruf.
Semua kegiatan di kelas B2 tidak terlepas dari pengawasan sang guru. Namun pada
saat kami mewawancarai rata-rata pengenai perkembangan kognitif anak-anak usia
dini di kelas b2 tersebut sudah cukup matang. Mereka sudah siap menempuh
jenjang selanjutnya yaitu sekolah dasar, tidak dipungkiri karena anak-anak yang
berada/ masuk di kelas B2 ini berumur 5-6 tahun, pantas saja mereka diakui sudah
mampu dan bisa berkembang baik masalah kognitifnya, mungkin hanya 1-2 anak yang
butuh didampingi lebih, itupun bukan anak yang berkebutuhan khusus, melainkan
mereka sedikit lebih lambat dalam memahami sesutu, memahami informasi yang
disampaikan oleh guru saat proses belajar mengajar berlangsung.
Mengenai
acuan atau materi yang disampaikan bu guru, khususnya materi untuk
mengembangkan kognitif anak mengacu pada program-program yang telah ditentukan
oleh lembaga sebelumnya, yang dibahas dan sudah ada di prota, prosem, RKM, dan
RKH. seperti missal puzzle dan balok untuk memngembangkan kognitif anak-anak.
Pada
pukul 09.00 WIB anak-anak diperkenankan untuk istirahat. Berdasarkan pengamatan
kami, mereka sebelum istirahat membaca bismilah terlebih dahulu, dan satu per
satu dari mereka meninggalkan kelas untuk istirahat. Biasanya anak-anak pada
jam istirahat mereka mengahbiskan waktunya dengan bermain di area sekolah, ada
yang membeli jajanan di kantin, ada juga yang berlari-larian dan ada juga yang
diam saja di kelas. Setelah jam menunjukkan pukul 09.15 WIB anak-anak disuruh
untuk masuk kelas oleh ibu guru, dan melanjutkan kembali proses pembelajaran.
Di
kelas B2 ini selain kegiatan yang digunakan untuk meningkatkan perkembangan
kognitif, ada juga kegiatan untuk memningkatkan perkembangan kreativitas dan
bahasa. Seperti missal pada jam kedua ini anak dilatih untuk mengembangkan
bahasanya yaitu dengan bercerita di depan kelas, dengan bernyanyi bersama-sama,
dan dengan berdialog bersama teman serta ibu guru.
Tepat
pada pukul 11.00 kegiatan pelajar mengajar di kelas B2 usai yang ditutup dengan
membaca do’a bersama-sama. Namun berdasarkan hasil wawancara saya dengan bu
guru yang mengajar di kelas B2 selain kegiatan yang dilakukan di dalam kelas,
ada juga kegiatan lain diluar kelas, yaitu kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan
ekstrakulikuler itu sendiri dilakukan pada setiap hari Sabtu, meliputi
ektrakurikuler drumband, menari, angklung, melukis, dan ektra bahasa. Tidak
hanya ektrakurikuler saja yang dimiliki TK ABA Wonokromo II, melainkan ada
kegiatan yang menunjang kreativitas anak-anak, missalnya saja pada kegiatan
kunjungan ke tempat-tempat wisata, outbond, lomba-lomba menggambar dan melukis,
pecan budaya, serta kegiatan-kegiatan event-event, missal Maulid Nabi Muhammad
SWA, Perayaan HUT Kemerdekaan 17 Agustus, dan masih banyak lagi event-event
lainnya.
BAB
V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil observasi di TK Aisyiah Bustanul Athfal Wonokromo II yang telah saya
lakukan, dapat saya tarik kesimpulan bahwa perkembangan yang terdapat di TK ABA
Aisyiah Bustanul Athfal Wonokromo II khusuusnya pada kelas B2 ini yaitu
meliputi aspek-aspek perkembangan kognitif, kreativitas, dan bahasa. Serta
proses pembelajaran di kelas B2 yang meliputi 3 aspek tersebut berjalan dengan
baik sekali, dikarenakan rata-rata anak-anak yang masuk di kelas B2 sudah
berumur 5-6 yang pada umur-umur tersebut anak-anak sudah mulai matang untuk
perkembangn kognitifnya, mulai berkembang kreativitasnya, dan sudah mulai bervariasi
perkembangan bahasanya.
5.2
Saran
Saran
yang dapat saya sampaikan untuk kelas B2 di TK ABA Wonokromo II ini adalah
lebih memperhatikan lagi bagaimana anak-anak tumbuh kembang, sehingga dapat
tercapainya tujuan dari pendidikan dengan optimal dan maksimal, sehingga bisa
mencetak anak-anak yang berkualitas, berintelektual, dan tidak lupa dengan
wawasan ke Islaman yang dalam.
5.3
Lampiran

Gambar 1. Suasana di luar kelas B2.
Gambar 2. Saya bersama salah satu anak.
![]() |
Gambar
3. Proses wawancara dengan guru B2


Gambar
4. Kegiatan belajar mengajar di dalam kelas.
![]() |
|||
![]() |

Gambar
5. Sarana dan Prasarana di Kelas B2 TK ABA Wonokromo II.
[1]Drs.ahmad
susanto,M.pd Perkembangan anak usia dini(jakarta:kencana,2011)bab.5,hlm.1-2
[2]http://rike-rikeriwayanti.blogspot.co.id/2010/12/perkembangan-bahasa-untuk-anak-usia.html.
Diakses tgl 19 september 2015 jam 22.00
[3]
Ibid.,
hal. 127.
[4]
Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif,
(Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009) hal. 94.
[5] Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010),
hal. 158.
[6] Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian…., hal. 127.
[7] Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2009), hal. 216
[8] Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian…, hal. 158.
[9]
Lexy J. Moleong, Metodologi
Penelitian Kualitatif…, hal. 248.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar